3.3. Gelombang Cahaya | BLOG BELAJAR FISIKA sma


104
104 points
3.3. Gelombang Cahaya | BLOG BELAJAR FISIKA sma

<img src = "https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/prism1.gif?w=150&h=113" class = "lampiran-gambar mini ukuran thumbnail" alt = "" aria-uraian oleh = " gallery-60-3-61 "data-attachment-id =" 61 "data-permalink =" https://belajarfisika91.wordpress.com/2009/08/02/3-3-gelombang-cahaya/prism1/ "data -orig-file = "https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/prism1.gif" data-orig-size = "120.90" data-komentar-dibuka = ​​"1" data-image- meta = "{" aperture ":" 0 "," credit ":" "," camera ":" "," caption ":" "," Created_timestamp ":" 0 "," hak cipta ":" "," focal_length ": "0", "iso": "0", "shutter_speed": "0", "title": ""} "data-image-title =" Prism[1]"data-image-description ="

Dispersi Cahaya

"data-medium-file =" https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/prism1.gif?w=120 "data-file-besar =" https://belajarfisika91.files.wordpress.com /2009/08/prism1.gif?w=120 "/>

Pembiasan pada Prisma

<img width = "150" height = "88" src = "https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/17.gif?w=150&h=88" class = "lampiran-gambar mini ukuran thumbnail "alt =" "aria-descriptionby =" gallery-60-3-68 "srcset =" https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/17.gif?w=150 150w, https: // Belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/17.gif?w=300 300w "size =" (max-width: 150px) 100vw, 150px "data-attachment-id =" 68 "data-permalink =" https : //belajarfisika91.wordpress.com/2009/08/02/3-3-gelombang-cahaya/attachment/17/ "data-orig-file =" https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08 /17.gif "data-orig-size =" 630.370 "data-komentar-dibuka =" 1 "data-image-meta =" {"aperture": "0", "credit": "", "camera": "", "caption": "", "Created_timestamp": "0", "copyright": "", "focal_length": "0", "iso": "0", "shutter_speed": "0", " judul ":" "}" data-image-title = "17" data-image-description = "

Dispersi Cahaya

"data-medium-file =" https://belajarfisika91.files.wordpress.com/2009/08/17.gif?w=300 "data-file-besar =" https://belajarfisika91.files.wordpress.com /2009/08/17.gif?w=510 "/>

Dispersi Cahaya

Ketika cuaca cerah, siang hari kita bisa melihat matahari dan di malam hari bisa melihat bulan atau bintang. Matahari, bulan dan bintang adalah bagian dari benda langit, yang ketika kita melihatnya atau mengamatinya, informasi yang dapat kita tangkap langsung dari benda langit ini adalah dalam bentuk cahaya. Dan dari situ para astronom cahaya dapat menentukan posisi, jarak, warna, suhu, jenis zat yang dikandungnya, energi dan sebagainya. Jadi cahaya adalah ilmu, cahaya adalah bagian dari fenomena fisik, tanpa cahaya itu tidak akan pernah menjadi ilmu astronomi, tanpa cahaya kita tidak akan bisa hidup. Dari fenomena cahaya ini, banyak ilmuwan telah mengajukan berbagai ide atau teori tentang cahaya. Namun, dalam sains, kebenaran ide atau teori akan sangat ditentukan oleh tes eksperimental.

Ilmuwan Abu Ali Hasab Ibn Al-Haitham (965 – sekitar 1040), menyatakan bahwa setiap titik di daerah yang diterangi oleh cahaya, memancarkan sinar cahaya ke segala arah, tetapi hanya satu sinar dari setiap titik yang memasuki mata secara tegak lurus dapat dilihat. Sedangkan lampu lain yang tidak tegak lurus dengan mata tidak bisa dilihat.

Ada teori partikel oleh Isaac Newton (1642-1727) dalam Hipotesis Cahaya tahun 1675 bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel halus (sel-sel) yang memancar ke segala arah dari sumbernya. Teori gelombang oleh Chrisiaan Huygens (1629-1695), menyatakan bahwa cahaya dipancarkan ke segala arah sebagai gelombang seperti suara. Perbedaan antara keduanya hanyalah frekuensi dan panjang gelombang.

Dalam zaman Newton dan Huygens, orang beranggapan bahwa merambat gelombang pasti membutuhkan media. Sedangkan ruang antara bintang dan planet adalah ruang hampa (ruang hampa), menimbulkan pertanyaan apakah medium sinar matahari merambat ke bumi jika cahaya adalah gelombang seperti yang dikatakan Huygens. Ini adalah kritik orang terhadap opini Huygens. Kritik ini dijawab oleh Huygens dengan memperkenalkan zat hipotetis (dugaan) yang disebut eter. Zat ini sangat ringan, tembus cahaya dan mengisi seluruh alam semesta. Eter membuat cahaya datang dari bintang-bintang ke bumi.

Pada dekade awal abad ke-20, berbagai percobaan dilakukan oleh para ilmuwan seperti Thomas Young (1773-1829) dan Agustin Fresnell (1788-1827) berhasil membuktikan bahwa cahaya dapat lentur (difraksi) dan mengganggu. Fenomena alam yang khas adalah sifat gelombang daripada partikel. Eksperimen dilakukan oleh Jeans Leon Foulcoult (1819-1868) menyimpulkan bahwa perambatan cahaya dalam air lebih rendah daripada kecepatannya di udara. Meskipun Newton dengan teori emisi partikel memprediksi sebaliknya. Berikutnya Maxwell (1831-1874) menyatakan pendapatnya bahwa cahaya dihasilkan oleh gejala listrik dan magnetik sehingga diklasifikasikan sebagai gelombang elektromagnetik. Sesuatu yang berbeda dari gelombang suara yang digolongkan sebagai gelombang mekanis. Gelombang elektromagnetik dapat merambat dengan atau tanpa media dan kecepatan rambatnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan gelombang suara. Gelombang elektromagnetik bergerak dengan kecepatan 300.000 km / s. Kebenaran pendapat Maxwell tidak dapat disangkal ketika Hertz (1857-1894) berhasil membuktikan secara eksperimental yang dikompilasi dengan temuan berbagai gelombang yang termasuk dalam gelombang elektromagnetik seperti sinar-x, sinar gamma, gelombang mikro RADAR dan sebagainya.

Hari ini pandangan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik umum diterima oleh para ilmuwan, meskipun hasil percobaan Michelson dan Morley pada tahun 1905 ia gagal membuktikan keberadaan eter seperti yang dituduhkan oleh Huygen dan Maxwell.

Di sisi lain, pendapat Newton tentang cahaya yang menjadi partikel tiba-tiba menjadi polpuler lagi setelah lebih dari 300 tahun tenggelam di bawah opini populer Huygens. Dua fisikawan pemenang Hadiah Nobel, Max Plack (1858-1947) dan Albert Einstein memunculkan teori mereka tentang Foton …

Berdasarkan hasil penelitian pada sifat termodinamika radiasi materi hitam, Planck menyimpulkan bahwa cahaya dipancarkan dalam bentuk partikel kecil yang disebut kuanta. Gagasan Planck kemudian berkembang menjadi teori baru dalam fisika yang disebut teori Quantum. Dengan teori ini, Einstein berhasil menjelaskan peristiwa yang dikenal sebagai efek foto listrik, yang merupakan transmisi elektron dari permukaan logam karena varietasnya diterangi oleh cahaya.

Jadi dalam kondisi tertentu cahaya menunjukkan sifat sebagai gelombang dan dalam kondisi lain menunjukkan sifat sebagai partikel. Ini disebut sebagai dualisme cahaya. (sumber: e-dukasi.net)

Fisika Animasi Java:

Seperti ini:

Seperti Memuat …


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *