Bulan untuk Awal Ramadan 1440 H


88
88 points
Bulan untuk Awal Ramadan 1440 H

Ramadan. Arti harfiahnya adalah "panas yang membakar," jejak seabad abad di mana bulan kalender bertepatan dengan musim panas Semenanjung Hijaz, sekarang bagian dari Arab Saudi.

Namun dalam konteks agama, Ramadhan adalah salah satu bulan kalender paling penting di dunia. Menimbang bahwa satu dari tujuh orang saat ini di Bumi memeluk Islam. Ini adalah bulan kalender suci, rentang waktu bagi umat Islam untuk berpuasa.

Kiri: Situasi posisi Bulan dan Matahari ketika matahari terbenam pada 5 Mei 2019. Kanan: Bentuk bulan saat matahari terbenam 5 Mei 2019. Kredit: rufin Sudibyo

Kiri: Situasi posisi Bulan dan Matahari ketika matahari terbenam pada 5 Mei 2019. Kanan: Bentuk bulan saat matahari terbenam 5 Mei 2019. Kredit: Ma'rufin Sudibyo

Begitu juga di Indonesia. Tidak hanya dalam aspek keagamaan, Ramadhan memiliki posisi penting dalam bidang ekonomi, sosial-budaya hingga konstitusional. Kehidupan ekonomi terasa lebih menggeliat sepanjang bulan kalender ini. Puncaknya adalah sebelum dan selama perayaan Idul Fitri, di mana jutaan orang bermigrasi sementara. Kembali ke tanah kelahirannya, merajut keramahtamahan dan menyapa orang lain.

Ramadhan adalah bagian dari kalender Hijriah, sistem kencan yang gay (tergantung) pada sirkulasi Bulan murni. Tepatnya dalam periode sinodik Bulan, yaitu rentang waktu antara dua peristiwa konjungsi Sun-Moon berturut-turut. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa ketika Bulan dan Matahari menempati garis bujur ekliptika yang sama dalam sistem koordinat langit. Periode sinodik Bulan memiliki nilai rata-rata jangka panjang 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik, dengan variasi nilai ayunan antara minimum 29 hari 8 jam hingga maksimum 29 hari 16 jam.

Penentu perubahan bulan kalender Hijriah adalah hilal, lengkungan bulan sabit tertipis / termuda di Bulan yang dapat dideteksi dengan mata menggunakan instrumen atau tidak. Ramadhan juga ditentukan dengan cara ini. Secara umum di Indonesia ada dua cara untuk menentukan awal Ramadhan. Yang pertama adalah rukyat hilal (pengamatan hilal), yang mencoba mengamati hilal dengan referensi setelah matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah metode penentuan dengan referensi terbanyak dalam perspektif syaruat. Tetapi di sisi lain metode ini membutuhkan waktu untuk menit terakhir untuk mendapatkan hasil. Sedangkan yang kedua adalah perhitungan (perhitungan astronomi), yang mencoba memperhitungkan unsur-unsur posisi Bulan dan Matahari untuk kemudian dibandingkan dengan persamaan ambang tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi perhitungan menyediakan aplikasi prediksi tetapi di sisi lain memiliki anggaran minimal. Pada dasarnya secara astronomis kedua metode tersebut dapat diterima, selama syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing metode dipatuhi.

Indonesia memiliki kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat. Kadang-kadang juga disebut kriteria MABIM, karena juga merupakan referensi bagi umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria ini memiliki narasi bahwa ketinggian minimum bulan toposentris adalah 2º yang dilengkapi dengan persyaratan tambahan. Yaitu usia Bulan setidaknya 8 jam atau bulan yang memanjang – Matahari setidaknya 3º. Kriteria ini digunakan baik dari sisi perhitungan, maupun dari sisi rukyat. Dalam hal perhitungan, maka jika posisi Bulan telah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriah baru telah terjadi ketika Matahari terbenam pada waktu itu. Sedangkan dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak laporan hasil rukyat. Apalagi jika laporan tersebut didasarkan pada pengamatan mata telanjang, tanpa alat pendukung dan tanpa gambar / foto yang menjadi bukti.

Bagaimana dengan awal Ramadan 1440 H di Indonesia?

29 Sya larangan 1440 H dalam Jadwal Standar Indonesia bertepatan dengan hari Minggu 5 Mei 2019 TU (Tanggal Umum). Pada tanggal ini awal Ramadhan 1440 H akan ditentukan, baik dengan perhitungan maupun rukyat. Di almanak sejumlah organisasi Islam seperti Nahdlatul ama Ulama dan Persis, larangan Sya ke-29 juga terjadi pada hari yang sama. Hanya almanak Muhammadiyah yang menempatkan larangan ke-29 Sya sehari sebelumnya.

Konjungsi Geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Minggu 5 Mei 2019 pukul 05:45 WIB. Di seluruh Indonesia saat matahari terbenam, usia Bulan bervariasi dari yang terkecil +9,7 jam (di Merauke, provinsi Papua) hingga yang terbesar +13,0 jam (di Banda Aceh, provinsi Aceh). Zaman Bulan adalah perbedaan waktu antara konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu matahari terbenam secara lokal. Sementara ketinggian toposentris Bulan juga bervariasi dari yang terkecil + 5º 20 & # 39; (di Jayapura, provinsi Papua) hingga yang terbesar + 6º 30 '(di Pelabuhan Ratu, provinsi Jawa Barat). Demikian juga, perpanjangan bulan bervariasi dari yang terkecil + 6º 34 & # 39; (di Jayapura, provinsi Papua) hingga + 7º 50 '(di Pelabuhan Ratu, provinsi Jawa Barat).

Dengan data ini, kriteria Imkan Rukyat telah dipenuhi dari sisi perhitungan. Sementara dari sisi rukyat, Anda masih harus menunggu hingga matahari terbenam pada senja hari Minggu, 5 Mei 2019 TU. Jika cuaca cerah, maka laporan bulan baru yang masuk akan diterima. Sehingga 1 Ramadhan 1440 H di Indonesia memiliki peluang besar untuk bertepatan dengan Senin 6 Mi 2019 TU yang dimulai pada Senin malam.

Bagaimana dengan astronomi?

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) telah melakukan kampanye pengamatan hilal yang komprehensif pada periode 2007 hingga 2010 TU menghasilkan serangkaian data yang cukup berharga. Dari situlah diketahui berbagai hubungan antara penampakan / visibilitas bulan baru dan sejumlah elemen posisi Bulan terhadap Matahari. Mari kita ambil contoh perhitungan yang dilakukan di lokasi Pos Pengamatan Pedalen Bulan (POB), Kab. Kebumen (Jawa Tengah).

Di lokasi ini, aplikasi data RHI menunjukkan bahwa ketika matahari terbenam, lengkungan bulan baru akan menjadi 23º. Dan secara empiris hilal akan terlihat dengan teleskop hanya dalam 5 menit setelah matahari terbenam ketika langit dalam kondisi sempurna (sangat cerah). Dalam kondisi yang sama, secara hilal hilal baru akan terlihat dengan mata telanjang dalam 23 menit setelah matahari terbenam. Sementara Bulan akan terbenam dalam 27 menit setelah matahari terbenam. Dari perspektif ini, peluang penampakan hilal penentu awal Ramadhan 1440 H lebih besar dengan menggunakan teleskop.

Seperti ini:

Seperti Memuat …


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *