Debu, Bahan Dasar Kelahiran Bintang


92
92 points
Debu, Bahan Dasar Kelahiran Bintang

Para astronom membuat peta awan gas antarbintang di mana ada palung kelahiran bintang. Peta ini adalah bagian dari Proyek Formasi Bintang yang dapat membantu para astronom memahami proses kelahiran bintang.

Foto M17 yang merupakan area pembentukan bintang. Penghargaan: NASA, Holland Ford (JHU), Tim Sains ACS dan ESA

Foto M17 yang merupakan area pembentukan bintang. Penghargaan: NASA, Holland Ford (JHU), Tim Sains ACS dan ESA

Bintang yang sering kita lihat di malam hari memang tersusun oleh gas. Tapi, ada bahan yang juga penting dalam membentuk bintang. Sama seperti saat memanggang kue, kita membutuhkan tepung dan gula sebagai bahan utama untuk menghasilkan kue yang lezat. Di ruang angkasa, bintang juga. Debu adalah unsur penting untuk membuat bintang!

Tidak seperti gas, debu bukanlah bahan bakar yang menggerakkan bintang. Tapi, tanpa debu, bintang tidak pernah dilahirkan. Bagaimana bisa?

Ini karena bintang hanya dapat terbentuk ketika bahan di daerah pembentukan bintang sudah cukup padat. Nah, disinilah peran penting debu untuk meningkatkan kepadatan materi sehingga bintang bisa mulai terbentuk.

Untuk memahami area pembentukan bintang yang dipenuhi gas dan debu, para astronom di Jepang memotret tiga awan gas raksasa di mana terdapat area tempat bintang dilahirkan. Difoto adalah awan Orion A, Aquila Rift dan M17.

Awan yang difoto tidak bisa dilihat dengan mata. Karena itu, para astronom melihat tempat kelahiran bintang-bintang ini melalui teleskop.

Foto cloud Orion A, Aquila Rift, dan M17, diambil dengan Teleskop Radio Nobeyama. Kredit: NAOJ.

Foto cloud Orion A, Aquila Rift, dan M17, diambil dengan Teleskop Radio Nobeyama. Kredit: NAOJ.

Sebuah foto bintang-bintang raksasa yang bersembunyi di balik awan difoto oleh Spitzer Telescope dan Nobeyama Radio Telescope di Jepang. Kedua teleskop ini memotret dalam cahaya yang berbeda. Teleskop Spitzer menangkap awan cahaya inframerah yang dipancarkan, sedangkan teleskop Nobeyama memenangkan gelombang radio. Foto cloud M17 pada halaman ini diambil oleh Spitzer Telescope dalam cahaya inframerah.

Dalam cahaya inframerah dan radio, astronom dapat melihat lebih banyak objek redup daripada cahaya tampak (yang dapat dilihat oleh mata).

Jadi, radiasi infra merah dan gelombang radio dapat menembus debu kosmik sehingga para astronom dapat melihat area yang biasanya tersumbat dan tersembunyi di balik gas dan debu.

Akibatnya, para astronom tidak hanya dapat melihat awan, tetapi dapat memperoleh foto yang sangat rinci untuk membuat peta awan raksasa tempat bintang-bintang dilahirkan.

Fakta keren:

Area di foto ini dikenal sebagai M17, awan gas dan debu tempat bintang terbentuk. Ukuran cloud ini 3500 kali lebih luas dari Tata Surya!

Sumber: Artikel ini adalah publikasi yang diterbitkan ulang edisi Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh langitselatan.

Seperti ini:

Suka Memuat …


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *