R.M.P. Sosrokartono: Abang R.A. Kartini yang Jenius


108
108 points
R.M.P. Sosrokartono: Abang R.A. Kartini yang Jenius

Artikel ini membahas kisah hidup R.M.P. Sosrokartono (saudara R.A. Kartini), seorang polyglot dengan segudang prestasi.

Hallo teman-teman! Sampai jumpa lagi dengan saya, Yuuji-sensei. Jika Anda masuk pada bulan April, biasanya sekolah memperingati Hari Kartini. Siapa yang tidak tahu R.A. Kartini? Salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Jepara dan menjadi tokoh perintis dalam kebangkitan dan emansipasi wanita di nusantara.

Setiap tahun, sekolah-sekolah di Indonesia memperingati jasanya dengan memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April. Sosok yang satu ini benar-benar keren, hingga perjuangannya tetap diingat selama berabad-abad setelah ia meninggal.

Namun, Anda tahu kan? Jiwa perjuangan Kartini tidak hanya dalam dirinya, Anda tahu. Kebesaran dan kecerdasan sudah tertanam dalam keluarganya. Salah satu anggota keluarganya yang tidak kalah kuat adalah R.M.P. Sosrokartono. Pernah mendengar? Mungkin nama Sosrokartono tidak akrab bagi sebagian orang. Meskipun Sasrokartono tidak setenar Kartini, tindakannya tidak kalah hebatnya. Jadi, dalam artikel ini, saya ingin membahas tentang Sosrokartono, saudara laki-laki R.A. Kartini.

Raden Mas Panji Sosrokartono adalah putra Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Nyai Ajeng Ngasirah. Ia dilahirkan di Mayong, Jepara, pada 10 April 1877, 2 tahun sebelum kelahiran Raden Ajeng Kartini. Dari namanya, kita sudah bisa tahu bahwa dia adalah bangsawan, atau bangsawan.

Meskipun lahir dan dibesarkan di lingkungan yang mulia, keluarga Sosrokartono tidak kaku terhadap feodalisme seperti bangsawan lainnya di tanah Jawa pada waktu itu. Sosroningrat, ayah Kartono, selalu ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, dan memiliki pikiran terbuka tentang zaman. Oleh karena itu, keluarga ini yang masih diklasifikasikan sebagai Klan Tjondronegoro (salah satu keturunan bangsawan dari dinasti Kekaisaran Majapahit) diklasifikasikan sebagai sangat progresif pada masanya.

Raden Mas Panji Sosrokartono

Seperti Kartini, Sosrokartono juga menunjukkan kegemaran membaca sejak kecil. Karena ayah sosrokartono sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya, Sosrokartono dididik di sekolah Belanda. Bahkan, untuk memfasilitasi rasa ingin tahu Sosrokartono dan kecenderungan tinggi untuk mengeksplorasi sains, ayahnya juga mempekerjakan guru swasta (gubernur) untuk mengajar anak-anak mereka.

Jadi, pendidikan sudah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dalam keluarga Sosrokartono.

Pada usia 8, Sosrokartono dikirim ke sekolah oleh ayahnya ke ELS (Europeesche Lagere School) Jepara, sebuah sekolah dasar Belanda yang hanya menerima keturunan Belanda dan bangsawan asli sebagai siswa. Karena ini adalah sekolah Belanda, bahasa pengantar adalah bahasa Belanda. Namun, ini tidak menjadi penghalang bagi Sosrokartono, karena ia telah memajukan Belanda sebelum dikirim ke ELS. Jadi, ketika ia berusia 8 tahun, ia menjadi dwibahasa, mampu berbahasa Jawa dan Belanda. BTW, pada waktu itu tidak ada bahasa Indonesia, kawan, karena kepulauan itu masih berupa Hindia Belanda.

Setelah lulus dari ELS, Sosrokartono melanjutkan studinya di sekolah Belanda, yaitu Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang. Ini adalah sekolah menengah yang setara dengan SMP dan SMA sekarang. Ketika belajar di HBS, karena berbagai kota, Sosrokartono ditempatkan untuk tinggal bersama keluarga Belanda oleh ayahnya. Adanya perbedaan yang mencolok antara budaya keluarga Jawa dan Belanda membantu membentuk fondasi Sosrokartono dalam memiliki wawasan dan pola pikir yang terbuka.

Tokoh Tjondronegoro Clan

Di tingkat pendidikan ini, kejeniusan Sosrokartono semakin terlihat. Karena ia haus akan sains, ia mulai mencari sumber pengetahuan dari berbagai buku yang pada saat itu belum banyak diterjemahkan. Dia mulai mengerjakan buku-buku bahasa Inggris dan Latin. Bayangkan saja, jika sekarang Anda dapat dengan mudah menemukan referensi dari internet, pada masa itu Sosrokartono harus mencari referensi dari buku aslinya. Jadi, suka atau tidak (lebih suka, karena dia suka saya, suka belajar bahasa asing, hehe) dia juga belajar bahasa Inggris dan Latin. Pada level ini pula Sosrokartono mulai menggeluti hasratnya dalam menulis.

Sosrokartono juga mulai menunjukkan bahwa ia adalah polyglot, menambahkan bahasa Prancis, Jerman, Mandarin, dan Sanskerta ke dalam gudang linguistiknya. Bayangkan, teman-teman, di usia remaja, Sosrokartono benar-benar membaca dalam berbagai bahasa, plus menulis, hebat?

Pada tahun 1897, Sosrokartono lulus dari HBS Semarang dengan hasil yang sangat memuaskan. Salah satu tulisan yang menjadi ujian akhir yang ditulis dalam bahasa Jerman bahkan dicap sebagai tulisan terbaik pada waktu itu, dan digunakan sebagai contoh untuk siswa HBS Batavia.

Atas rekomendasi kakeknya, Bupati Demak Tjondronegoro IV, Sosrokartono, dikirim ke Belanda pada usia 20 tahun. Ini adalah hak istimewa yang diperoleh Sosrokartono, mengingat tidak pernah ada satu pun siswa Bumiputra yang pernah belajar di Belanda pada saat itu. waktu itu. Ini menjadi inspirasi besar bagi siswa bumiputra di Hindia Belanda. Ya, meskipun ini sebuah prestasi, pada waktu itu sangat sulit untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Boro-boro bisa pergi ke luar negeri, hanya untuk masuk ELS atau HBS belum tentu memungkinkan, karena saat itu pendidikan tidak bisa diakses secara merata. Namun, ini tidak menghalangi bumiputra untuk mendapatkan inspirasi dalam belajar, karena Bung Hatta, Tan Malaka, dll. Akhirnya juga dapat belajar di luar negeri.

Di Negeri Kincir Angin, Sosrokartono mengambil studi di Teknik Sipil di Sekolah Politeknik, Delft. Awalnya, dia mengambil kursus ini karena dia ingin pulang dengan membawa pengetahuan untuk mengembangkan kualitas pertanian di Demak, yang pada waktu itu adalah salah satu daerah penghasil beras terbesar di pulau Jawa.

Namun, studi di departemen Teknik Sipil hanya berlangsung 2 tahun. Sosrokartono tampaknya tidak terlalu tertarik dengan jurusan ini, dan ia lebih tertarik pada Filsafat dan Sastra Timur. Dia juga menghentikan studinya di Delft, dan pindah ke Universitas Leiden untuk masuk ke Fakultas Sastra Timur (Facultiet der En Wijbegeerte).

Universitas Leiden, tempat Sosrokartono belajar

Karena kecerdasannya, nama satu-satunya putra Jawa di Universitas Leiden meroket. Kemampuan linguistiknya yang luar biasa segera menjadikannya salah satu siswa paling cerdas.

Di Belanda, Sosrokartono bertemu dengan Dr. Abdul Rivai, sesama bumiputera yang merupakan editor majalah "Bintang Hindia". Sosrokartono bergabung dengan Dr. Rivai tak lama setelah lulus dari Leiden pada tahun 1902 dalam merawat majalah Indian Star. Majalah ini kemudian menjadi katalisator dalam penyebaran semangat nasionalisme di nusantara.

Ketika Sosrokartono melakukan proses transisi dari Delft ke Leiden, ia bertemu Willem Rooseboom, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada waktu itu. Gubernur Jenderal Rooseboom adalah gubernur jenderal pertama yang menerapkan kebijakan Politik Etis di bawah Rezim Ratu Wilhelmina.

Sebulan setelah bertemu dengan Gubernur Jenderal Rooseboom, Sosrokartono diundang untuk menyampaikan pidato pada Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 (Nederlands Taal en Letter Kunde) di Gent, Belgia. Dia dapat diundang karena popularitasnya sebagai bumiputra dengan kemampuan linguistik yang luar biasa.

Akademi Belanda di Gent, Belgia, tempat Sosrokartono menyampaikan pidatonya

Pada kongres ini, Sosrokartono mulai membangun platform untuk memperjuangkan hak-hak bumiputra (orang pedalaman) di Hindia Belanda. Dia memanfaatkan kesempatan untuk memberikan pidato ini untuk menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah kolonial Belanda untuk lebih memperhatikan kondisi masyarakat bumiputra, khususnya pendidikan. Dia juga mengatakan bahwa dia akan terus memperjuangkan budaya bangsanya sehingga tidak akan terkikis oleh imperialisme. Dia menuntut agar penduduk asli di Hindia Belanda diajar Belanda, sehingga mereka akan lebih mampu berkomunikasi dan mendapatkan akses ke pendidikan, dan mengurangi sebagian besar hubungan sosial antara Belanda dan bumiputra.

Sebagai ahli bahasa, Sosrokartono benar-benar menekankan pentingnya belajar bahasa Belanda (karena pada waktu itu kepulauan itu adalah koloni Belanda) untuk semua orang di Hindia Belanda. Menurutnya, dengan mempelajari bahasa Belanda, bumiputra tidak akan tertinggal dan tertindas, karena mereka akan lebih mudah mendapatkan akses ke materi pendidikan, yang telah menjadi monopoli Belanda dan para bangsawan.

Pada poin terakhir pidatonya, Sosrokartono menyuarakan penentangannya terhadap praktik kolonialisme dan imperialisme. Ini membuat kejutan negara-negara Eropa, terutama Belanda, yang pada waktu itu bersaing dalam ekspansi kolonial ke berbagai wilayah di dunia.

Isi pidato Sosrokartono dipublikasikan di berbagai surat kabar di Eropa. Ini membuat popularitasnya melambung, karena keberaniannya dalam mengkritik negara Belanda sebagai penguasa koloni Hindia Belanda. Ini juga merupakan cahaya bagi bumiputra yang secara bertahap mendapatkan kesempatan yang sama untuk melanjutkan studi mereka di Eropa. Keberanian Sosrokartono juga menarik perhatian pemerintah Belanda karena dianggap dapat membahayakan keberadaan kolonialisme.

Setelah ia lulus dari Universitas Leiden dengan gelar summa cum laude dan meraih gelar Doktor (Drs., Setara dengan gelar Sarjana saat ini), Sosrokartono bermaksud untuk melanjutkan studinya di tingkat doktoral di universitas yang sama .

Namun, meskipun pada saat itu ia telah menguasai puluhan bahasa asing (Belanda, Perancis, Jerman, Mandarin, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Inggris, Latin, Spanyol, Yunani, dll.), Ia tidak diterima sebagai seorang kandidat doktor. Salah satu penyebab terbesar adalah konflik dengan salah satu profesor di Universitas Leiden, yaitu Profesor Snouck Hurgronje.

Pidatonya di Belgia yang menjadi cikal bakal semangat nasionalis nusantara menjadi batu sandungan, karena Prof. Hurgronje tidak memiliki simpati terhadap bumiputra, dan menganggap bahwa bumiputra adalah kelas bawah; tidak sejajar dengan Belanda.

Profesor Snouck Hurgronje, "musuh bebuyutan" dari Sosrokartono

Masalah juga datang berulang kali. Setelah gagal menjadi kandidat doktor, ia harus menerima kabar buruk dari nusantara, yaitu kematian adik laki-lakinya, Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1904. Ini merupakan pukulan besar bagi Sosrokartono, karena ia sangat menyukai saudara perempuannya. Sebelum berangkat ke Belanda, ia menyarankan Kartini untuk tidak berhenti belajar, meskipun ia seorang wanita (pada waktu itu, wanita tidak bisa mendapatkan pendidikan tinggi, meskipun mereka berasal dari keluarga bangsawan).

Kesedihan semakin terasa ketika setahun kemudian, pada tahun 1905, ayah Sosrokartono, Adipati Ario Sosroningrat, meninggal. Ini semakin menambah depresi Sosrokartono, karena dia belum pernah kembali ke Jepara untuk bertemu Kartini dan Adipati Sosroningrat sejak dia berada di Belanda.

Meskipun sedih, Sosrokartono masih memilih untuk fokus pada kelangsungan hidupnya. Setelah lulus dari Leiden, ia berhasil menjadi penerjemah di Wina (Wina), Austria.

Ketika Perang Dunia I meletus pada tahun 1914, Sosrokartono melirik pekerjaan yang sangat bergengsi, yaitu menjadi jurnalis untuk surat kabar The New York Herald, sebuah surat kabar dari Amerika Serikat yang pada waktu itu menerbitkan edisi Eropa.

Surat kabar New York Herald, media Sosrokartono dalam meliput Peraturan Dunia I

Menjadi seorang jurnalis di surat kabar tidaklah mudah. Ia harus bersaing dengan kandidat internasional terkemuka. Namun, karena ia menguasai banyak bahasa asing, ditambah dengan keahliannya untuk menulis dan mengedit berita menjadi kuat, ia akhirnya berhasil menjadi satu-satunya jurnalis yang memenuhi syarat untuk meliput Perang Dunia I. Bahkan, Kontingen Sekutu pada waktu itu memberinya pangkat utama sehingga ia memiliki akses untuk menutupi medan perang.

Ketika Perang Dunia I berakhir pada 1918, Sosrokartono bukan lagi seorang jurnalis di The New York Herald. Dia meletakkan pena dan bekerja sebagai penerjemah. Dia telah menjadi penerjemah dan ahli bahasa untuk Sekutu dalam berbagai negosiasi, kemudian menjadi ahli bahasa untuk kedutaan Perancis di Den Haag, Belanda. Kemudian, ketika Liga Bangsa-Bangsa baru saja dibentuk, ia ditunjuk untuk menjadi ahli bahasa dan penerjemah di lembaga yang menjadi cikal bakal PBB.

Karier Sosrokartono di LBB tidak bertahan lama. Dia merasa bahwa Liga Bangsa-Bangsa hanya dibentuk secara pragmatis untuk memfasilitasi kepentingan negara-negara tertentu, dan kurang peduli tentang masalah kemanusiaan. Dia berhenti, dan memutuskan untuk melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne, Prancis. Namun, dia tidak berhasil, karena departemen yang dia pilih adalah Kedokteran, sedangkan departemen sebelumnya adalah sastra. Universitas Sorbonne hanya menerima lulusan kedokteran untuk dapat memasuki Departemen Psikoteknik dan Psikometri, program yang diinginkan oleh Sosrokartono pada waktu itu. Tak lama kemudian, ia kembali ke Jawa.

Setelah kembali ke negara itu pada tahun 1925, setelah sekitar 28 tahun menjelajahi Eropa, Sosrokartono memutuskan untuk berhubungan kembali dengan semangat nasionalisme dalam pidatonya di Belgia. Sosrokartono ingin berkontribusi pada gerakan nasional.

Setelah mengunjungi ibunya, Nyai Ajeng Ngasirah, yang telah pindah dari Jepara ke Salatiga, ia memutuskan untuk menetap di Bandung. Namun, karena dia menyaksikan secara langsung betapa buruknya dunia politik ketika dia di LBB, dia memutuskan untuk mencari cara lain untuk mendukung gerakan nasional menuju kebangkitan bangsa.

Meskipun ia telah membantu menjadi penggagas pendirian Vereniging Indische di Belanda (yang kemudian berubah nama menjadi Asosiasi Indonesia sebagai imbalannya), ia bersikeras untuk tidak bergabung dengan organisasi mana pun, dan menggunakan caranya sendiri untuk memperjuangkan nasib bangsa.

Sebagai individu yang berpendidikan, dan sebagai penghormatan kepada almarhum saudara, Kartini, Sosrokartono merasa bahwa ia harus mendirikan sekolah untuk warga bumiputra untuk mendidik bangsa sehingga mereka tidak lagi tunduk pada imperialisme dan kolonialisme. Namun, karena pengawasan ketat rezim Belanda, ia tidak mendapatkan izin untuk mendirikan sekolah.

Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan nasional yang memberi Sosrokartono cara untuk mendidik bangsa

Tanpa putus asa, ia bertemu dengan tokoh pendidikan yang mendirikan Taman Siswa, yaitu Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara juga melihat semangat juang yang tinggi di Sosrokartono dalam pendidikan, jadi dia mengangkatnya untuk menjadi guru dan kepala sekolah di Taman Siswa Bandung, cabang Nationale Middlebare School.

Sementara di Bandung, Sosrokartono bertemu Sukarno, seorang tokoh nasional yang nantinya akan menjadi pejuang kemerdekaan. Dia juga bertemu dengan tokoh-tokoh lain dari Asosiasi Indonesia dan Budi Utomo. Namun, terlepas dari kecerdasannya yang berharga dalam membantu organisasi-organisasi ini, ia mempertahankan idealismenya dan terus berkontribusi melalui pendidikan, hingga ia meninggal pada 8 Februari 1952.

Begitulah, kisah hidup Raden Mas Panji Sosrokartono, saudara laki-laki Raden Ajeng Kartini, seorang poliglot idealis yang benar-benar hebat. Meskipun namanya nyaris tidak terdengar di antara para pahlawan nasional, ia sebenarnya membuat kontribusi penting bagi gerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia, loh!

Pola pikir dan idealismenya juga memengaruhi sosok Kartini, seorang wanita hebat yang masih kita ingat sampai sekarang. Sampai disini ya. Semoga artikel ini dapat menginspirasi Anda. Jika Anda ingin juga dapat berbicara berbagai bahasa seperti Sosrokartono, Anda dapat membaca artikel saya untuk menjadi panduan. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Referensi:
Muhibuddin, Muhammad. 2019. DaR.M.P. Sosrokartono: Kisah Hidup dan Ajaran. Yogyakarta: Penerbit Araska.
https://id.wikipedia.org/wiki/Sosrokartono

Jika Anda ingin bertanya tentang R.M.P. Sosrokartono ke Yuuji-sensei, silakan kirim pertanyaan Anda di kolom komentar, ya!

Tertarik belajar dengan Zenius.net? Anda dapat memesan keanggotaan Zenius.net di sini.


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *